Last modified: 2026-06-06
Abstract
Fenomena crab mentality (mentalitas kepiting) perilaku menjatuhkan sesama perempuan untuk mempertahankan posisi sosial belum pernah diteliti secara empiris dalam konteks kepolisian Indonesia. Penelitian ini mengkaji eksistensi, mekanisme kerja, dan dampak crab mentality pada Polri dengan perspektif Southern Criminology. Menggunakan mixed-methods sequential explanatory design (rancangan penjelasan berurutan metode campuran), penelitian ini mengumpulkan data kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan 26 partisipan dan survei kuantitatif terhadap 958 Polwan dari enam Kepolisian Daerah (Polda) utama di Indonesia, yang dianalisis dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM; Pemodelan Persamaan Struktural Kuadrat Terkecil Parsial). Temuan kuantitatif mengidentifikasi horizontal violence (kekerasan horizontal) sebagai prediktor terkuat crab mentality (β = 0,385; T = 9,694; p < 0,001), diikuti masculine contest culture (budaya kompetisi maskulin; β = 0,179; T = 4,058; p < 0,001). Crab mentality terbukti meningkatkan turnover intention (niatan keluar; β = 0,264; T = 8,043; p < 0,001) dan work-family conflict (konflik kerja-keluarga; β = 0,482; T = 17,014; p < 0,001). Model serial mediation mengungkap mekanisme berantai: horizontal violence → crab mentality → work-family conflict → burnout (β = 0,112; T = 7,494; p < 0,001). Penelitian ini berkontribusi pada decolonial turn (pergantian dekolonial) kriminologi dengan mendokumentasikan fenomena ontologis lokal yang terlewat dari teori Barat, sekaligus menawarkan basis empiris untuk kebijakan pemberdayaan perempuan di institusi keamanan Global South.
Kata Kunci: crab mentality; Polwan; Southern Criminology; masculine contest culture; dekolonisasi